Hasil Oplosan Gas Subsidi Terungkap di Deli Serdang Beroperasi 24 Jam, Dijaga Preman Bersenjata HT

TOBAGOES.SUMUT/  Deli Serdang – Oplosan Gas Subsidi Terungkap di Deli Serdang di sebuah sudut jalan bernama Barak Kuda, Dusun III Selambo, Desa Amplas, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, tersimpan kisah kelam yang menyesakkan dada. Sebuah gudang besar berdiri, tampak biasa dari luar. Namun siapa sangka, di balik pintu besinya, berlangsung praktik oplosan gas subsidi 3 kilogram ke tabung ukuran 18 hingga 50 kilogram.

BACA JUGA  6 Orang Debt Collector Berhasil Ditangkap Polres Asahan
Kegiatan oplosan gas ini bukan sehari dua hari. Menurut keterangan warga sekitar, aktivitas terlarang itu telah berlangsung sekitar enam bulan tanpa henti. Setiap hari, bahkan 24 jam penuh, ribuan tabung gas berseliweran masuk dari berbagai arah. Bus dengan bak tertutup datang silih berganti, membawa tabung gas melon 3 kilogram, lalu keluar dengan tabung besar hasil oplosan.

Akses ditutup, preman jadi penjaga mencoba mendekati lokasi Oplosan bukanlah perkara mudah. Jalan menuju gudang sudah dipalang dengan besi besar. Beberapa pria berwajah keras berdiri di depan, berperan sebagai pengawal. Mereka bukan sekadar penjaga biasa, melainkan preman kampung yang tampil arogan.

BACA JUGA  Kasus Dugaan Penyerobotan Tanah Dilaporkan ke Polda Sumut

Di tangan mereka, terselip alat komunikasi handy talky (HT) yang terus berbunyi. Seolah-olah mereka sedang mengatur lalu lintas ilegal keluar-masuk gudang. Tak sembarang orang bisa melintas. Hanya kendaraan pengangkut tabung gas yang diizinkan, itupun dengan pintu tertutup rapat.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya, bermarga Purba, dengan suara lirih menyebutkan, “Bos kami tidak ada di tempat,” saat ditanya soal siapa dalang di balik kegiatan ini. Kalimat itu menambah rasa getir: ada sosok besar yang mengatur, namun wajahnya tak pernah terlihat di lapangan.

Bisnis haram di Ttengah krisis gas subsidi kegiatan pengoplosan ini jelas menyakitkan hati masyarakat. Di tengah sulitnya warga miskin mencari tabung gas 3 kilogram bersubsidi—yang seharusnya mudah diakses untuk kebutuhan sehari-hari—justru ribuan tabung berpindah tangan ke dalam bisnis haram.

BACA JUGA  Oknum Anggota DPRD Sumut Diduga Hamili Pegawai Bank Swasta

Bayangkan, gas yang seharusnya meringankan beban rumah tangga kecil, malah disedot dan dialirkan menjadi tabung besar, lalu dijual dengan harga lebih mahal. Keuntungan diraih segelintir orang, sementara rakyat kecil kembali menjadi korban.

Warga resah, tapi tak berdaya kehadiran preman yang bersenjata HT dan palang besi membuat warga sekitar hanya bisa menelan keresahan. Tidak ada yang berani bersuara lantang. Semua memilih diam, takut jika keselamatan mereka terancam.

Meski begitu, dari balik bisik-bisik masyarakat, terungkap bagaimana kegiatan ini telah lama menjadi rahasia umum. Mereka tahu, setiap malam ada deru kendaraan berat keluar masuk gudang. Mereka tahu, ada ribuan tabung melon yang hilang arah. Namun mulut mereka terkunci oleh rasa takut.

BACA JUGA  Video Polisi Minta Warga Bayar Denda Tilang Melalui Aplikasi DANA Viral di Medan

Menyaksikan praktik ini bagaikan menonton drama gelap yang nyata. Di satu sisi, ada warga miskin yang harus menunggu lama hanya untuk mendapatkan sebotol gas melon. Di sisi lain, ada sekelompok orang yang tanpa beban mengalirkan ribuan tabung ke jalur ilegal, meraup keuntungan besar tanpa peduli dampaknya bagi rakyat kecil.

Di jalan Barak Kuda itu, bukan hanya tabung gas yang berpindah tangan. Ada pula rasa keadilan yang ikut terjual (*)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest news

Related news